Setelah
membaca tulisan " Film dan Ikhtiar Kesadaran Kolektif " karya Setia
Naka Andrian, saya sangat senang. Karena tulisan ini menginspirasi kaum muda di
luar sana supaya tetap semangat dalam berkreatifitas dan berinovasi.
Walaupun banyak sekali permasalahan yang terjadi dalam proses tersebut. Bukan
hanya anak muda yang tergabung di komunitas kesenian melainkan diberbagai
bidang lainnya. Seperti yang diceritakan sang penulis, bagaimana Komunitas
Rumah Kreatif Film Kendal (RKFK)
menggelar pemutaran film perdananya yang hanya menyiapkan peralatan seadanya.
Tapi itu tidak menyurutkan semangat mereka dalam berkarya dan mengajak
masyarakat lebih kreatif dan aktif untuk melestarikan budaya dan peduli
terhadap lingkungan masyarakat.
Patut
diberi apresiasi yang tinggi untuk komunitas RKFK, karena mereka menghadirkan
sebuah kisah novel yang dijadikan film, melalui audio visual. Salah satunya
film yang bercerita tentang permasalahan Tenaga Kerja Wanita (TKW) di
masyarakat Kendal. Menurut saya, yang dilakukan Komunitas RKFK sudah benar.
Dengan film itu akan menyadarkan atau menjadi teguran buat warga yang bekerja
di luar negri atau sana saudaranya yang menjadi TKW. Mengenai salah satu pihak
yang mungkin sakit hati, itu tidak perlu dipikirkan. Menjadi TKW bukanlah satu-satunya
cara supaya bisa hidup berkecukupan. Banyak sekali lapangan pekerjaan yang
tersebar di Indonesia. Masih banyak usaha yang dapat dilakukan di negeri
tercinta ini. Tanah masih subur, lahan kosong yang masih ada. Kita masih bisa
menjadi orang maju di negeri sendiri.
Seperti
kisah di film yang dibuat sineas muda yang bernama Mustofa, yang mengisahkan
sebuah keluarga petani miskin. Mereka adalah Reksa anak dari pasangan suami
istri bernama Sukri dan Sum. Awalnya Reksa tidak ingin Sum bekerja di luar negeri.
Begitu pula Sum Ibu Reksa. Tetapi, Sukri memaksa dan bersikeras agar Sum
berangkat ke Malaysia. Dia ingin seperti tetangganya yang membeli motor hasil
kerja sang istri. Sepeninggal Ibunya menjadi TKW, Reksa menjalani kehidupan
dengan mandiri. Mencuci pakaiannya sendiri, yang suatu ketika baju seragamnya
tak kering.
Dari
cerita tersebut kita bisa mengambil pesan maupun pelajaran. Bahwa bekerja di
luar negeri bukan jaminan hidup berkecukupan. Bahkan mengakibatkan anak kurang
perhatian dan kasih sayang dari orang tua secara utuh. Semoga film ini bisa
memberikan pelajaran buat seluruh masyarakat, bahwa kebahagiaan tidak
bergantung dengan seberapa banyak kita selalu berada di dekat keluarga
dimanapun itu. Tidak peduli panas hujan dan semoga masyarakat bisa memanfaatkan
lingkungan. Untuk apa pergi jauh ke negeri tetangga kalau di negeri sendiri
banyak kearifan lokal yang bisa dimanfaatkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar